Kamis, 25 Februari 2016

MANUSIA DAN CINTA KASIH

1.HAKIKAT CINTA KASIH
            Cinta, boleh jadi merupakan suatu istilah yang sulit untuk dibatasi secara jelas. Kendatipun demikian, sulit juga untuk diingkari bahwa cinta adalah salah satu kebutuhan hidup manusia yang cukup fundamental. Begitu fundamentalnya sampai-sampai membawa Victor Hago, seorang pujangga terkenal, kepada satu kesimpulan : bahwa mati tanpa cinta sama halnya dengan mati dengan penuh dosa.
            Secara sederhana cinta dikatakan sebagai paduan rasa simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang di antara pria dan wanita, akan tetapi bisa juga diantara pria dengan pria atau wanita dengan wanita. Contoh yang mudah di mengerti untuk ini dapat kita lihat pada hubungan cinta kasih antara seorang ayah dengan anak laki-lakinya, atau seorang ibu dengan anka gadisnya.
            Cinta memang sangat erat terpaut dengan kehidupan manusia. Tidak pernah selintas pun orang berpikir bahwa cinta itu tidak penting. Mereka haus akan cinta. Banyak orang tidak henti-hentinya menonton film tentang kisah cinta, baik yang berakhir dengan bahagia ataupun yang sebaliknya. Banyak orang yang suka mendengarkan berpuluh-puluh lagu yang bermotif tentang cinta. Kendatipun demikian, hampir setiap orang tidak pernah berfikir tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal, cinta bisa diibaratkan sebagai suatu seni yang bagaimana bentuk seni lainnya, sangat memerluakn pengetahuan dan latihan untuk bisa menggapainnya.
            Sampai dengan sekarang ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa cinta itu tidak lebih dari sekedar perasaan menyenangkan yang untuk mengalaminya orang harus terjatuh kedalamnya. Sikap semacam itu pada hakikatnya berdasar pada pendapat-pendapat berikut ini, baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama.
            Yang pertama, banyak orang melihat masalah cinta ini pertama-tama sebagai masalah dicintai dan bukan masalah mencintai, yaitu masalah kemampuan orang untuk mencintai. Pendapat semacam ini akan mendorong manusia untuk selalu mempermasalahkan bagaimana supaya iya dicintai, atau bagaimana supaya iya menarik orang lain. Dan untuk mengejar tujuan ini umumnya orang menempuh beberapa jalan. Yang laki-laki biasanya akan berusaha menjadi sukses, berkuasa dan kaya sejauh dimungkinkan oleh batas-batas kedudukan sosialnya, sementara yang wanita, biasanya, berusaha membuat dirinya lebih menarik, lebih cantik, lebih merangsang dan lain sebagainya. Selain itu, cara yang dianggap bisa menarik orang lain adalah dengan memupuk tingkah laku yang menyenangkan, menyuguhkan tutur kata yang menarik, suka menolong, sopan, dan tindakan-tindakan lain yang bersifat tidak mengganggu orang lain.
           


Penonjolan masalah dicintai dengan cara-cara yang umum ditempuh tersebut bisa kita petik dalam novel Nh.Dini, Hati Yang Damai :
            “Kau tidak berhak berbuat begitu. Kau tahu aku mencintai Sidik. Dan kalau tahu apa akibatnya ini bagi persahabatan kalian kalau mau memulai menyalahinya”.
            “Aku tidak memulainya, salakah aku kalau jika mencintai orang yang dicintai kawanku sendiri ? Aku tidak bisa melupakan, Dati, Kau harus memberiku kepastian. Aku akan mempunyai kedudukan lebih baik dari Sidik jika lulus nanti. Kita bisa  minta tempat ke lain pulau. Kau ingin ke Kalimantan, bukan ?” bujuknya, dan tangannya kasar meraba mukaku bibirnya kaku memaksaku menerima ciumannya. Sementara nafasku tersengal. Lalu aku menolaknya dengan keras.
            Pendapat kedua, di belakang sikap bahwa tidak ada yang harus di pelajari dalam hal cinta, adalah satu dugaan bahwa masalah cinta adalah masalah obyek, dan bukan masalah bakat. Dugaan semacam ini mendorong orang untuk selalu berfikir, bahwa mencintai orang lain itu adalah soal yang sederhana, akan tetapi yang sulit justru mencari obyek yang tepat untuk mencintai atau untuk dicintai. Sikap semacam itu mempunyai beberapa alasan yang berakar pada perkembangan masyarakat modern. Salah satu alasannya ialah adanya perubahan besar yang terjadi dalam abat ke-20, khususnya dalam pemilihan obyek cinta. Pada zaman Victorian, sebagaimana yang banyak terjadi dalam masyarakat dengan kebudayaan yang masih teradisional, cinta bukanlah terutma merupakan pengalaman pribadi yang spontan yang kemudian mungkin mengarah kepada perkawinan. Namun sebaliknya perkawinan diatur oleh adat, keluarga-keluarga terpandang, perantara perjodohan, atau tanpa pertolongan semacam itu. Perkawinan di tentukan atas dasar pertimbangan sosial, dan cinta dianggap berkembang sesudah perkawinan dilangsungkan. Ilustrasi tentang hal ini tidak sulit kita cari dalam karya-karya sastra kita. Yang paling klasik barangkali bisa kita petik dari Siti Nurbaya.
            Pendapat ketiga, yang mengarah kepada dugaan bahwa tidak ada yang harus di pelajari dalam hal cinta ini terletak dalam  pencampuradukan antara pengalaman mula pertama jatuh cinta dan keadaan tetap berada dalam cinta. Jika dua orang yang dahulunya merupakan orang asing tiba-tiba meruntuhkan tembok diantara mereka, dan mereka merasa dekat atau merasa satu,maka momen kesatuan inilah salah satu dari pengalaman yang paling menyenangkan dan mengembirakan dalam kehidupannya. Kenyataan semacam itu dirasakan benar-benar menakjubkan seakan-akan sebagai mukjizat bagi pribadi-pribadi yang bersangkutan, yang sebelumnya tertutup dan terisolasi tanpa cinta. Mukjizat keintiman yang tiba-tiba ini sering di permudah kalau di padukan dengan, atau dimulai oleh daya tarik seksual dan pemuasnya. Akan tetapi sekedar tahu bahwa tipe yang terakhir ini umumnya tidak berlangsung lama.
            Berangkat dari ketidakpuasan terhadap  ketiga pendapat tersebut di atas, kendatipun diakui telah banyak dianut oleh berbagai kalangan. Frich Fromm mengajukan premis yang sama sekali berbeda dimana cinta dianggapnya sebagai suatu seni.
           


            Sebagai suatu seni cinta memerlukan pengetahuan dan latihan. Dan sebagaimana lazimnya mempelajari suatu seni, maka dibutuhkan pengetahuan teoritik terlebih dahulu sebelum kita menguasai prakteknya. Berkat perpaduan antara kemampuan teoritik dan praktis seni bisa dikuasai, berupa intuisi dan hakikat penguasaan. Akan tetapi, sebenarnya, dua unsur itu saja belum cukup, sebab masih harus dilengkapi dengan suatu sikap bahwa menguasai seni adalah tujuan tertinggi. Hal terakhir inilah yang membuat orang enggan menguasai seni, kendatipun ia mendambakannya. Lagi pula, sebagaimana disinyalir di muka, dewasa ini banyak orang lebih mengutamakan hal-hal lain seperti keberhasilan, gengsi, uang dan kekuasaan. Hampir seluruh daya digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, dan tidak sedetik pun diluangkan untuk mempelajari seni mencinta.
            Kembali kepada kedua ilustrasi di awal pembahasn ini, maka apabila ayah kandung Arie Hanggara dan anak kandung Ny.Salbia telah mencoba memahami seni mencinta niscaya semua teragedi itu tak akan terjadi. Kasus tersebut terjadi lantaran perasaan cinta telah mereka abadikan dan ini berakibat hilangnya penjaga keseimbangan antara jiwa dan raga mereka. Satu hal yang patut disesali memang. Padahal ajaran-ajaran agama sendiri pun cukup mengingaktan bahwa manusia adalah binatang yang dibekali dengan akal budi. Sementara kita juga cukup tahu bahwa cinta adalah merupakan salah satu unsur dari akal budi tersebut. Bilamana manusia kehilangan cinta, mereka tidak akan mampu menetralisasikan sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya.
            Cinta adalah suatu kegiatan, dan bukan merupakan pengaruh yang pasif. Secara demikian bisa pula dikatakan bahwa salah satu esensi dari cinta adalah adanya kreatifitas dalam diri seseorang. Atau lebih tegas lagi bisa dikatakan, bahwa cinta itu terutama terletak pada aspek memberi dan bukan dan menerima.

2.CINTA KASIH DALAM BERBBAGAI DIMENSI
            Dari pembahasan di atas dapat kita tarik suatu pngertian bahwa cinta boleh dibilang telah merupakan bagian hidup manusia. Pengakuan akan hal ini tidak saja diberikan oleh anggota-anggota sesuatu komunitas tertentu, akan tetapi kebenarannya telah diakui secara universal, dalam arti telah merupakan pengertian yang sangat umum.
            Lewat pembahasan itu pula barangkali kita juga sempat menangkap wawasan yang lebih luas dari hubungan cinta kasih antar insan. Tegasnya, yang namanya cinta tidak sekedar pertautan antara unsur-unsur yang telah disebutkan, tetapi lebih luas dari itu ia mempunyai hubungan pengertian dengan konstruk lain, seperti misalnya kasih sayang, kemesraan, belas kasihan, ataupun dengan aktivitas pemujaan.
            Secara longgar, kasih sayang bisa diartikan sebagai perasaan sayang, perasaan cinta, atau perasaan suka kepada seseorang. Dari pengertian yang sangat sederhana tersebut, tampak bahwa kasih sayang paling tidak menuntut adanya dua pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu seseorang yang mencurahkan perasaan sayang, cinta atau suka, dan seseorang yang memperoleh curahan kasih sayang, cinta dan suka itu sendiri.


            Pengalaman hidup kita sehari-hari memaksa kita untuk mengakui, bahwa bagaimana pun hidup kita akan memperoleh arti apabila telah bisa kita peroleh perhatian dari orang lain. Sementara ini kita sudah mengetahui pula bahwa yang namanya perhatian itu pada dasarnya merupakan salah satu unsur dasar dari cinta kasih. Perhatian tersebut bisa saja datang dari orang tua, saudara, suami atau istri, kawan, atau kelompok orang yang lebih luas lagi. Pendek kata, sebagai manusia normal kita sangat membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Hidup kita akan terasa indah, bahagia dan mengesankan apabila kita telah mampu memahami berbagai perhatian orang lain. Untuk ini sangat menarik kiranya menyimak syair Jalaluddin Rumi yang banyak dibicarakan orang.
            Kasih sayang, adalah sesuatu yang indah, suci, dan didambakan oleh setiap orang. Sebagaimana cinta, kasih sayang tidak akan lahir tanpa orang yang melahirkan. Dengan kata lain, seseorang tidak akan memperoleh kasih sayang apabila tidak ada orang orang lain yang memberi. Secara demikian wajar kalau kita mengenal berbagai macam bentuk kasih sayang, yangini semua sangat tergantung kepada kondisi penyayang dan disayangi. Dengan bertitik tolak kepada kasus hubungan antara orang tua dengan anaknya kita bisa membedakan berbagai bentuk kasih sayang berikut ini :
            Pertama, Suatu bentuk kasihsayang di mana orang tua bersikap aktif sementara anak bersikap pasif. Dalam hubungan ini orang tua memberikan kasih sayang yang berlebihan terhadap anaknya, baik yang berupa moral atau material, sementara si anak hanya menerima saja, mengiyakan tanpa sedikitpun berusaha memberikan respon. Kondisi semacam ini biasa menciptakan anak yang senantiasa takut, kurang berani menyatakan pendapat, minder, atau dengan kata lain cenderung membentuk sosok anak yang tidak mampu berdiri sendiri dalam masyarakatnya.
            Kedua, Suatu bentuk kasih sayang dimana orang tua bersikap pasif anak bersikap aktif. Dalam bentukini si anak mencurahkan kasih sayang kepada orang tuanya secara berlebihan. Kasih sayang inidi berikan secara sepihak. Orang tua cenderung mendiamkan tingkah laku anaknya dan tidak memberikan respon terhadap apapun yang diperbuatsi anak.
            Ketiga, suatu bentuk kasih sayang di mana orang tua bersikap pasif  sementara si anak bersikap pasif. Dalam bentuk ini jelas masing-masing pihak membawa cara hidup dan tingkah lakunya tanpa saling memperhatikan satu sama lain. Suasana keluarga terasa dingin, tidak ada tegur sapa dan yang jelas tiada kasih sayang. Kecenderungan yang menonjol dalam bentuk ini orang tua hanya memenuhi segala kebutuhan anak dalam bidang materi semata-mata. Suasana keluarga yang demikian, sekaligus buahnya, bisa kita tangkap dari Novel Kembang Pandang Kelabu melalui toko Elsye dan Adisti di suatu sore :
            ‘Kau tidak pernah mendengar, bahwa aku bekas tukang isap ganja? Pecandu narkotika? Sudah lama aku hampir mati,” kata Elsye barapi-api.
            Adisti diam saja, ia memang pernah mendengar tentang hal ini.
            “Itu yang selalu mereka gunjingkan tentang aku, tapi mereka tidak tahu sebabnya. Sebab orang tuaku mempunyai kedudukan yang begitu terhormat, maka aku yang disalah-salahkan. Katanya akuanka nakal, sok, anak orang kaya, anak orang berpangkat, ugal-ugalan. Tapi itu dulu dua tahun berlalu, ketika aku masih di SMA. Untung sebelum ujian aku telah insyaf, aku bisa lulus. Dengan pertolongan orang-orang yang ahli aku dapat terlepas dari kebiasaan terkutuk itu. Dan aku putuskan aku masuk asrama demi masa depanku.”
...................................................................................................................................................         “Kau merasa pasti bahwa aku temukan kedamaian itu di sini ? Padahal, di rumahmu keadaannya tentu berkelebihan dalam segalanya,” kata Adisti.
            “Kau juga salah ! kau hanya melihat dari luarnya. Di rumahku, aku gelisah, cemas, ketakutan, jengkel dan dendam. Aku setiap saat melihat papa dan mama berbeda pendapat terus hampir tak berhenti. Aku heran apa saja sebenarnyayangmereka persoalkan. Aku tahu kalau aku ikut campur, mereka akan berbalik padaku. Aku akan di cap anak lancang dan kurang ajar. Demi gengsi, mereka tidak bercerai, itu mungkin pendapatku. Di rumah aku tidak pernah merasakan kedamaian, jauh dari rasa kebahagiaan”.
            Sedang bentuk yang keempat, adalah suatu bentuk kasih sayang di mana orang tua bersikap aktif sementara si anak juga bersikap aktif. Dalam bentuk ini orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang secara berlebihan, sehingga hubungan antara orang tua dan anak terasa intim dan mesra, saling mencintai, saling menghargai, dan yang lebih jelas saling membutuhkan.
            Kasih sayang, adalah satu kondisi yang merupakan pertumbuhanlebih lanjut dari cinta. Percintaan antara dua remaja, misalnya, apabila diakhiri dengan perkawinan maka dalam kehidupan rumah tangganya keluarga muda tersebut sudah tidak lagi bercinta-cintaan, akan tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
            Dalam kasih sayang, masing-masing di tuntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, dan saling terbuka, sehingga keduanya seakan-akan merupakan suatu kesatuan yang bulat utuh. Salah satu unsur tersebut di atas hilang, boleh jadi akan retaklah keutuhan rumah tangga tersebut. Banyak kasus membuktikan kebenaran semacam itu.
            Kasih sayang adalah suatu istilah yang konotatif, dan tidak denotatif. Namun satu hal pasti, ia tidak akan muncul dan berkembang tanpa ada kehendak sesuatu pihak yang memberikannya. Meskipun demikian satu hal juga patut untuk dipertimbangkan, bahwa sebelum kita berkehendak memberikan kasih sayang kepada orang lain, sudah barangtentu kita harus mampu terlebih dahulu memberikan kasih sayang itu kepada diri kita sendiri secara wajar. Dalam ajaran islam, misalnya, kebenaran akan kondisi semacam itu bisa diperkuat oleh salah satu pengalaman Nabi Muhammad SAW. Berikut ini :
            Dalam perjalanan menaklukkan Mekkah, tentara islam di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW berkemah.                                                                                                                          Kebetulan waktu itu bulan puasa. Melihat tidak sedikit diantara mereka yang letih, maka beliau minta semangkuk air. Air itu dipertunjukan kepada umum lalu di minum supaya diikuti. Ketika di ketahui bahwa  di antara mereka masih ada yang tetap berpuasa, maka maralah beliau seraya bersabda, “Mereka bermaksiat.......................mereka bermaksiat !”
            Dan ketika Nabi melihat banyak orang yang berkerumun dengan mengembangkan sehelai kain untuk melindungi salah seorang yang terlentang di jalan dari terik matahari, beliau bertanya :

            “Kenapa orang ini ?” “Musafir sedang berpuasa Ya Rasullah,” jawab mereka. Makakata beliau, “Tidak baik berpuasa sementara musafir. Terimalah dispensasi Allah itu dan jangan di sia-siakan.”
            Apa yang bisa kita petik dari kutipan tersebut ? Ternyata kasih sayang, menurut Islam, menempati posisi yang cukup tinggi, bahkan dibanding dengan peribadatan sekalipun. Dan karena mencurahkan kasih sayang lebih utama dari melakukan peribadatan, maka bisa dianggap bermaksiat bagi seseorang yang berpuasa dalam kepayahan. Justru yang demikian ini bisa dianggap sebagai siksaan atau sama halnya dengan tidak mencurahkan kasih sayang pada diri sendiri.

3.KASIH SAYANG
            Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karanganW.J.S.Purwodarminto, kasih sayang diartikan dengan dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
            Ada berbagai macam bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan disayangi.
            Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka di dalam berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cinta, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
            Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
            Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu.Kasih sayang yangtidak di sertai kejujuran akan terancamlah kebahagiaan rumah tangga itu.
            Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anaknya yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah atau ibunya.
            Bayi yang masih merah telah dapat mengenal suara atau sentuhan tangan  ayah atau ibunya. Bagaimana sikap ibunya memegang / menggendong telah dikenalnya. Hal ini ialah karena sang bayi telah mempunyai kepribadian.
            Semua itu sebenarnya wajar, karena tugas seorang ibu adalah menyusui anaknya dengan kasih sayang yang tulus. Gambaran seorang ibu yang sedang menyusui anaknya dapat kita saksikan setiap hari di dunia manapun. Justru seorang ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas itu, akan dianggap salah oleh masyarakat, keculai ibu itu sakit atau karena satu dan lain hal tidak dapat menyusui anaknya.
            Kasih sayang itu tampak sekali bila seorang ibu sedang menyusui atau menggendong bayinya itu diajak bercakap – cakap, ditimang-timang, dinyanyikan, meskipun bayi itu tak tahu arti kata-kata, lagu dan sebagainya.
Kesimpulan :
            Kasih sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula kelahiran anak tidak di harapkan, namun hal itu termasuk kekecualian. Kelahiran anak yang tidak diharapkan, umumnya bukan lahir karena hasil kasih sayang.
            Kasih sayang yang berlebihan cenderung merupakan pemanjaan. Pemanjaan anak berakibat kurang baik, karena umumnya anak yang dimanjakan menjadi anakyang sombong, pemboros, tidak shaleh, dan tidak menghormati orang tua.
4.KEMESRAAN
            Kemesraan berasal dari kata dasar “Mesra”, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan akrab baik antara pria-wanita yang sedang di mabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.
            Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam.Filsuf Rusia, Salovjev dalam bukunya “MAKNA KASIH” mengatakan “ Jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar keluar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain.”
            Pernyataan ini di jabarkan secara indah oleh William Shakespeare dalam kisah “Romeo dan Juliet”. Bila di Indonesia kisah Rara Mendut Pranacitra.
            Yose Ortega Y. Gasset dalam novelnya “On Love” mengatakan, “di kedalaman sanubarinya seorang pecinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan bersikap kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya.”
            Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si pecinta tidaklah akan kehilangan pribadinya dalam aliran enersi cinta tersebut. Malahan pribadinya akandi perkaya, dan di bebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seorang untuk mengenal dirinya.
            Di bawah sorotan pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup. Kemampuan mencinta ini memberi nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
            Dari uraian di atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat dirinya.
            Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
           
Hubungan yang akrab dituangkan dalam bentuk seni misalnya seni pahat, senipatung, seni lukis, seni sastra dan sebagainya sesuai dengan bakatnya. Dalam seni tari berbagai daerah mengenai bentuk tari kemestaan seperti tari “Karonsih” dari Jawa Tengah, tari “Merak” dari Jawa Barat, dan lain-lain yang biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan.
Dalam seni musik, lagu kemesraan hampir tiap menit kita dengar melalui radio atau alat media elektronika yang lain. Lagu-lagu kemesraan antara lain “Cinta” ciptaan Rinto Harahap, “Mimpi-mimpi Tinggallah Mimpi” ciptaan Tirto Saputra dan lain-lain.
Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Di dalam drama TVRI yang berjudul Tigor, betapapun mesra hubungan Tigor dengan Minah, Namun orang tua Minah, Jaya Kepruk semula tak menginginkan hubungan anaknya dengan Tigor, pemuda “seberang”.
Tigor pemuda dari Tapanuli, bertugas di daerah Jaya Kepruk untuk membantu pembangunan daerah itu. Ia mendukung gagasan Pak Lurah yangbermaksud membuat saluran air dengan mengorbankan sebagian tanah sawah Jaya Kepruk, tetapi gagasan itu sangat menguntungkan orang banyak.
Jaya Kepruk tidak setuju dengan gagasan ini, karena akan merugikan dia. Karena itu, ia sangat  benci kepada Tigor, pemuda “seberang”.
Tigor tinggal di rumah janda kaya Jaya Kepru, Janda Jaya Kepruk memperingatkan Tigor, agar ia mengurungkan niatnya meminang Minah. Hal ini karena ia tau sifat dan tabiat Jaya Kepruk. Bila Tigor ke rumah Jaya Kepruk dengan bermaksud meminang Minah, maka dapat diibaratkan sebagai masuk mulut harimau.
Tigor yang berhati lurus pantang menyerah. Ia tetap datang ke rumah Jaya Kepruk untuk meminang Minah. Kedatangan di sambut oleh Jaya Kepruk denganmuka seram. Tetapi Tigor tidak gentar sedikitpun. Terjadilah dialog antara Jaya Kepruk dengan Tigor :
Jaya Kepruk : “ Mengapa kamu melamar anak saya ?”
Tigor             : “ Saya cinta pada Minah !”
Jaya Kepruk : “ Kau tidak takut pada saya ?”
Tigor             : “Apa sebab saya takut kepada Bapak ? saya tidak takut kepada siapapun,                                     saya hanya takut kepada Tuhan.






            Karena Tigor dianggap pemuda yang kepribadiannya tegas, dan berani karena benar, akhirnya Jaya Kepruk mengijinkan Tigor mengawini anaknya.
Jaya Kepruk : “ Kau boleh kawin dengan anakku, tetapi tidak boleh kau bawa pulang ke                           Sumatera.”
Tigor             : “ Apa sebab, Pak ? “
Jaya Kepruk : “ Minah tidak bisa berbahasa Batak. Nanti di sana tidak bisa ngomong                                apa-apa !”
Tigor             : “ Oh tidak, Pak. Kami disana tidak mempergunakan bahasa Batak, kami                              mempergunakanbahasa Indonesia.”
            Akhirnya Jaya Kepruk mengizinkan Minah dibawa suaminya ke daerahnya. Karena ia sadar bahwa Tapanuli ( Daerah Batak ) itu juga tanah airnya dan bahas Indonesia, juga bahasanya yang dipakai oleh rakyat di seluruh Indonesia.
            Dalam drama TVRI itu, kita jumpai nilai-nilai manusia. Penyadaran pengertian bangsa, bahasa, dan tanah air. Tokoh Tigor yang di katakan pemuda “seberang” oleh orang kampung di daerah Jawa Tengah, berhati lurus sesuai dengan namanya, dan bertanggung jawab atas segala ucapan dan tindakannya.
            Jaya Kepruk tidak setuju dengan gagasan Lurah yang merugikan dirinya. Tigor mendukung gagasan itu, demi kepentingan orang banyak. Ia mencintai Minah, anak Jaya Kepruk, tetapi dukungan terhadap gagasan Lurah tetap tak di cabut dan tak megendor. Keperibadian kuat seperti itulah yang dibutuhkan untuk membangun tanah air yang kita cintai ini.
Kesimpulan :
            Kemesraan adalah hubungan akrab antara pria-wanita atau suami-istri. Kemesraan merupakan bagian hidup manusia. Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Kemesraan dapat membangkitkan daya kreativitas manusia untuk menciptakan atau menikmati seni budaya, seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis dan sebagaiya.
            Dalam lukisan seni budaya itu mengandung nilai-nilai kehidupan, moral pelakunya, kebobrokan sosial, ketidakadilan, dan sebagainya. Semua itu wajib di kaji para cendekia agar dirinya tidak terkungkung dalam bidangya.







5.PEMUJAAN
            Pemujaan adalah perwujudan cinta kasih manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, karenapemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Apakah sebab hal itu terjadi karena Tuhan pencipta alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqan ayat 59 - 60 yang menyatakan, “ Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, kemudian Dia bertahta di atas Singgasana-Nya. Dia maha pengasih, tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui “. Selanjutnya ayat 60, Bila dikatakan kepada mereka , “ Sujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih ”.
            Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juag penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintah-Nya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi dalam hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mu’minun ayat 98 dinyatakan, “ Dan aku berlindung kepada-Mu. Ya Tuhanku, dari kehadiran-Nya di dekatku.” Dan dalam injil surat Rum "ayat 1 – 2 berbunyi, “ Memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucapkan syukur kepada-Nya.”
            Jelaslah bagi kita, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta untuk manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia.
            Manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan atau sembahyang. Dalam surat An-Nur ayat 41 anatar lain dinyatakan,” Apakah engkau tidak tahu bahwasannya Allah  itu dipuja oleh segala yang  ada di langit  dan di bumi....”
a.Cara Pemujaan
            Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai cara pemujaan sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi, dan situasi. Sembahyang di rumah, di masjid, di gereja, di pura, di candi bahkan di tempat-tempat yang dianggap keramat merupakan perwujudan dari pemujaan kepada Tuhan atau yang dianggap Tuhan.
            Di alam semesta  ini tidak ada seorang pun yang membantah bahwa Tuhan itu pencipta segala –galanya. Bahwa Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Menentukan, Maha bijak, Maha Kasih dan masih banyak Maha lagi sifat Tuhan, tidak ada yang menyangkal.
            Dalam kehidupan sehari – hari orang menyatakan, “ Tuhan telah menggariskan” dan lain – lain. Itu semua pertanda orang mengakui kebesaran Tuhan.
            Oleh karena itu,pemujaan – pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal itu berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya, mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaan, agar ditunjukan jalan yang benar, mohon di tambahkan segala kekurangan yang ada padanya  dan lain – lain.
           
Bila setiap hari sekian kali manusia memuja kebesaran-Nya dan selalu mohon apa yang kita inginkan, dan Tuhan selalu mengabulkan permintaan umat-Nya, maka wajarlah cinta manusia kepada Tuhan adalah cinta mutlak ? cinta yang tidak dapat di tawar – tawar lagi. Alangkah besar dosa kita, apabila kita tidak mencintai-Nya meskipun hanya sekejap.    
b.Tempat Pemujaan
            Masjid, Gereja, Candi, Pura dan lain lagi merupakan tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhannya atau yang dianggap Tuhan. Di tempata-tempat itu dianggap  Tuhan “berada”, karena itu orang islam menamakan masjid “rumah Allah”, mak wajarlah tempat-tempat itu dibuat sebagus mungkin, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan karena tempat itu dianggap suci, maka tidaklah pantas dan tidak wajar bila tempat-tempat itu dipergunakan untuk segala keperluan, kecuali keperluan untuk membesarkan nama Tuhan.
            Apabila masyarakat berhasil membangun tempat memuja, tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhan atau yang dianggap Tuhan sebesar dan seindah mungkin, maka banggalah masyarakat itu. Kebanggaan itu adalah kepuasan batinnya akan kemaksimalan cintanya, pengapdiannya kepada Tuhan.
            Bangsa Indonesia memiliki Borobudur sebagai tempat pemujaan  agama Budha yang tidak ada duanya di dunia pada jamannya. Untuk itu bangsa Indonesia bangga, meskipun bangsa Indonesia yang tinggal di sekitar Candi Borobudur pada waktu itu tidak memeluk agama Budha. Hal ini merupakan bukti akan kemaksimalan bangsa Indonesia pada waktu itu akan cintanya kepada Tuhannya.
            Banyak tempat pemujaan yang merupakan kebanggaan  bangsa  yang memiliki monumen itu, misalnya Candi Wisnu di Kamboja, yang dikenal dengan Angkor, merupakan kebanggaan bagi bangsa Kamboja sebagai bukti cinta terhadap “Tuhannya”.
c.Berbagai Seni Sebagai Manifestasi Pemujaan
            Seperti dikemukakan di depan cinta menimbulkan daya kreativitas penciptanya. Pengertian kreativitas pencintanya. Pengertian kreativitas antara lain ialah mencipta. Dalam seni pahat banyak kita jumpai acara-acara yang menggambarkan dewa-dewa atau sesuatu yang di pujanya. Sudah tentu tinggi rendahnya hasil seni itu tergantung pada penciptanya.
            Seni tari pun ada pula yang bersifat mengagungkan nama Tuhan atau dianggap “Tuhan”. Misalnya tari Sanghayang Dedari dan tari Sanghayang Jaran di Bali adalah tarian bersifat keagamaan. Tari itu hanya di tarikan pada upacara agama dan tidak boleh di tonton olehpara turis, penontonnya sangat terbatas. Lagi pula tarian itu di tarikan pada dini hari tidak sembarang waktu.
Kesimpulan :
            Pemujaan terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta membangkitkan daya kreativitas. Pengertian dasar kreativitas adalah mencipta, menemukan, berkarya, mencari bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan hubungan yang misterius. Dalam mencari bentuk-bentuk ini pemujaan dapat berupa : sembahyang sebagai media berkomunikasi membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah mungkin, mencipta lagu, puisi, novel, film dan sebagainya.
6.BELAS KASIHAN
            Dalam surat Yohanes di jelaskan ada 3 macam cinta. Pertama, Cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan yang di terangkan pada kegiatan belajar. Kedua, Cinta philia ialah cinta kepada ayah ibu ( orang tua ) dan saudara. Dan ketiga, Cinta eros atau amor adalah cinta antara pria dan wanita. Beda antar cinta eros dan amor adalah cinta eros karena kodrati sebagai laki-laki dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit di nalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau menikahi pemuda yang kerdil.
            Di samping itu masih ada cinta lagi yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama merupakan paduan cinta agape dan cinta phila.
            Cinta sesama ini diberikan istilah “Belas Kasihan” untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria-wanita, cinta kepada Tuhan. Masih ada cinta lagi yaitu cinta kepada Bangsa dan Tanah air, tetapi dalam hal selanjutnya hanya dibicarakan mengenai cinta kepada sesma.
            Dalam cinta sesama ini dipergunakan istilah belas kasihan, karena cinta di sini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaan. Penderitaan ini mengandung arti yang luas mungkin tua, tua dan sakit-sakitan, yatim piatu, penyakit yang di deritanya, dan sebagainya.
            Dari surat Al-Qalam ayat 4 maka manusia menaru belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan aalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang ber’audi sangat di pujikan oleh Allah SWT.
            Perbuatan atau sifat yang menaruh belas kasihan adalah yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Misalnya sanggupkah ia menggunggah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu terduga hatinya maka berarti orang itu berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
            Dalam essay ‘’on love’’ ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan syart.Itu  berarti dalam rasa belas kasihan tida mengandung unsur “pamrih”.belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas.Kalo kita memberikan uang kepada pengemis agar dapat pujian,itu berarti tida ikhlaas,berarti ada tujuan tertentu.Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.
            Dalam essay itu pula di jelaskan bahwa orang yang menaruh belas kasih dan yang d tumpahi belas kasih ada kebersamaan yang mendasar,maksudnya yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan orang yang di delas kasihani.
Cara-cara menumpahkan belas kasih
            Dalam kehidupan banyak sekali yaNg harus kita kasihi dan banyak cara kita menumpahkan rasa belas kasihan.Yang perlu kita kasihi antara lain:orang jompo yang tida mempunyai ahli waris,pengemis yang bener-bener tidak mampu bekerja, orang sakit dirumah sakit, orang cacat, msyarakat kita yang hidup menderita dan sebagainya.
            Berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung pad asituasi dan kondisi. Ada yang memberikan uang, ada yang memberikan barang, ada yang memberikan pakaian, makanan dan sebagainya.
            Bahkan pangeran Siddharta menyatakan belas kasihan kepada rakyatnya dengan jalan meninggalkan istana untuk menjadi biksu. Pada suatu hari pangeran Siddharta keluar istana diiringkan hamba sahayanya secara secara diam-diam. Dalam perjalanan ia menjumpai orang sakit ; ia tanyakan kepada hambanya : “Kenapa orang itu ?” dijawabnya pertanyaan itu maka merenunglah pangeran Siddharta. Setiba di istana tergoda hatinya oleh penderitaan di luar istana dan di bandingkan dengan kemewahan di istana.
            Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan istana, pergi ke hutan, mencari arti hidup. Betapa piluh hati ayah bundanya menyaksikan putra pangerannya, calon penggantinya berpakaian biksu sedang mengemis di pasar. Sekali tidak diberi, kembalilah ia ke hutan ke tempat ia bertapa sampai hari yang diijinkan untuk mencari makan dengan cara mengemis. Pangeran Siddharta akhirnya menjadi Budha Gautama penyebar agama Budha.
            Belas kasihan pada sesama pada hakikatnya adalah cinta kasih terhadap sesama, yang berarti melaksanakan ajaran agama. Bahwa kita wajib mencintai sesama, berarti orang berbudi. Berbudi perbuatan yang dipuji oleh Allah SWT. ( Surat Al-Qalam ayat 4 ).
            Cara orang menumpahkan belas kasihan bermacam-macam, sesuai dengan siapa yang dibelaskasihi dan bergantung pada situasi dan kondisi.
            Belas kasihan dapat menimbulkan daya kreativitas, yang berarti orang dapat berbuat, berkarya, mencipta, mencari, menemukan dan lain-lain. Dalam seni budaya belas kasihan dapat berupa bermacam-macam bentuk seni: seni suara, seni puisi, seni sastra (prosa) dan lain-lain.
            Bentuk-bentuk seni budaya tersebut mengandung nilai-nilai hidup, norma serta moral, yang bila di kaji dan mempertinggi daya tanggap, persepsi serta pemelaran wawasan kita.

7.MANUSIA DAN CINTA KASIH
            “Hidup tanpa cinta itu kosong”. Cinta amat penting dalam kehidupan manusia. Belumlah sempurna hidup seseorang itu jika di dalam hidupnya tidak pernah di hampiri atau di hinggapi perasaan cinta. Karena hidup manusia di dunia ini tidak hanya seorang diri, melainkan selalu melibatkan pihak lain, maka dengan istilah “cinta” tersebut harus diartikan baik “mencintai” maupun “ dicintai” ; pihak lain yang di maksud di sini bukan hanya oranglain, melainkan juga benda-benda atau makhluk lain.
            Karena cinta itulah kehidupan ini ada. Bukankah manusia iu berbuat atau melakukan sesuatu karena dorongan perasaan cinta tersebut ? Bukan hanya manusia, binatang-binatang pun sesungguhnya berbuat suatu karena dorongan perasaan cinta. Hanya bedanya, manuisa berbuat karena kesadaran atau akalnya, sedangkan binatang  berbuat karena nalurinya. Pada hakikatnya cintalah yang terdapat pada asal mula dari hidup, sekurang-kurangnya rasa cinta  akan diri sendiri ; demikinalah yang pernah di katakan oleh Prof.Dr.Louis Leahy SJ ( Louis Leahy : 1984 ).
            Dalam setiap diri manusia terdapat dua sumber kekuatan yang menggerakan manusia untuk berbuat atau bertingkah laku; termasuk mencinta atau dicinta, tentunya. Dua sumber kekuatan yang di maksud tadi ialahakal dan budi di satu pihak, dan pihak lain adalah nafsu. Jadi perasaan cinta pun dapat di pengaruhi oleh dua sumber. Yaitu perasaan cinta yang digerakan oleh akal budi, dan perasaan cinta yang digerakan oleh nafsu. Yang pertama disebut cinta tanpa pamrih atau cinta sejati. Dan yang kedua disebut cinta nafsu atau cinta pamrih. Oleh Prof.Dr.Louis Leahy SJ, cinta tanpa pamrih disebut: cinta kebaikan hati ; sedangkan cinta nafsu atau cinta berpamrih disebut cinta utilitaris atau yang bermanfaat , artinya, yang mengindahkan kepentingan diri sendiri. Biasa disebut orang dengan istilah cinta karena ada udang di balik batu.
            Sesuai dengan tugas manusia sebagai pengemban nilai moral, seharusnya manusiaharus selalu berusaha agar perasaan cinta yang tumbuh dalam hati tidak jatuh ke lembah cinta nafsu, apalagi sampai tak bermoral dan cinta nafsu sampai kelewat batas, jelas harus kita hindari.
            Perasaan antar sesama, hendaknya perasaaan cinta yang berangkat dari dasar rasa “tepah selira”. Dengan cara menempatkan diri kitapada diri orang lain. Dengan demikian kita akan merasasatu dengan oarng yangkita cintai. Namun kesatuan yang terjadi bukanlah kesatuan yang “simbolik”. Bukan kesatuan yang saling bergantung dan saling menguntungkan. Juga bukan keatuan yang bersifat “kepatuhan” kesatuan dalam cinta yang kitatumbuhkan haruslah yang tetap menjamin kepribadian dan individualitas masing-masing.
            Dalam cinta kasih atau cinta sejati tidak ada kehendak untuk memiliki, apalagi menguasai. Yang ada hanyalah rasa solidaritas, rasa senasib dan rasa sepenanggungan dengan yang kita cintai dantumbuh dengan secara wajar dan bersifat sukarela. Cinta kasih sejati sedikitpun tidak ada hubungannya kenikmatan atau keinginan ( Mary Lutyens, 1969 ). Menurut Moh.Said cinta kasih atau cinta sejati tidak menimbulakn kewajiban, melainkan tanggung jawab. ( Moh.Said Reksohadiprojo, 1976 ).
            Cinta kasih atau cintasejati adalah rasa cinta yang tulus yang tidakmemerlukan atau menuntut balas. Ia lebih banyak memberi daripada menerima. Hali ini sesuai dengan nyanyian seperti :
            Kaish ibu kepad beta
            Tak terhingga sepanjang masa
            Hanya memberi
            Tak harap kembali
            Bagai sang surya menyinari dunia.




Atau yang dikatakan oleh penyair Khalil Gibran ;
            Cinta tak memberikanapa-apa, kecuali
            Keseluruhan dirinya, utuh penuh
            pun tak mengambil apa-apa kecuali
            dari dirinya sendiri
            cinta tak memiliki ataupun dimiliki
            karena cinta telah cukup untuk cinta.
            Demikianlah wujud cinta terhadap sesama manusia yang harus kita tumbuhkan dalam hati nurani. Cinta kasih atau cinta sejati adalah cinta kemanusiaan; yang tumbuh dan berkembang dalam lubuk sanubari setiap manusia bukan karena dorongan sesuatu kepentingan; melainkan atas dasar kesadaran bahwa pada hakikatnya kemanusiaan itu satu.
            Maka cinta kasih itu akan meliputi seluruh dunia, tanpa melihat suku bangsa, warna kulit, agama dan sebagainya; dan tidakmengenal batas waktu. Cinta kasih bersifat abadi, karena ia tidak bergantung pada sesuatu yang ada dan melekat pada sesuatu yang dicintai. Cinta kasih “keberadaannya” bukan disebabkan oleh unsur-unsur yang bersifat eksternal, yang ada di luar diri kita, melainkan justru oleh unsur-unsur yang bersifat internal, yang bersemayam dan berkembang di dalam diri kita masing-masing.
            Cinta kasih tidak mengenal iri, cemburu, persaingan dan sebangsanya. Yang ada adalah perasaan yang sama dengan perasaan yang ada pada orang yang dicintai, mengapa ? Karena dirinya adalah diri kita. Bagi cinta kasih pengorbanan adalah suatu kebahagiaan. Sebaliknya ketidak mampuan membahagiakan atau paling tidak meringankan beban yang dicintai atau dikasihi adalah suatu penderitaan.












  PENUTUP
            Mudah-mudahan dengan penulisan makalah ini pembaca mengerti dan menambah wawasan dari pembahasan tentang “Manusia dengan Cinta Kasih”.Terima Kasih



















DAFTAR PUSTAKA

-Buku Ilmu Budaya Dasar ( Drs.Djoko Widagho, dkk )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar